Kidung Agung 5 : 1 -
8
Jika pada suatu waktu kita, siapa
saja kita umat Yesus yang sudah menyatakan percaya,, dipanggil Tuhan untuk
melayani, maka hal “wajar” yang sering kita dengar adalah betapa kreatifnya
kita mencari alas an untuk menolak panggilan itu. Sebab ini dan itu seperti tidak ada
habisnya. “Tidak siap”, “tidak mampu”.
“tidak ada waktu” dan masih banyak lagi kata tidak – kata tidak yang lain. Dan ada juga yang menggunakan kata yag lebih
moderat misalnya “nanti saja” ataupun “tidak sekarang”.
Dengan sikap yang demikian kita
memperlakukan Tuhan supaya selalu sabar terhadap kita, kita memposisikan Tuhan
untuk selalu mau menerima alasan kita, atau kita berharap Tuhan selalu mau
menunggu sikap kita.
Dalam kutipan Alkitab di Kidung
Agung ini, suatu ketika Tuhan bisa saja meninggalkan kita jika kita sudah
dipanggil dengan mesra tidak hanya sekali namun tetap tidak mau bangun
melayani. Jika demikian yang terjadi,
bukankah kita tahu bahwa kita akan sangat menyesal?
Saya menulis renungan ini bukan
sekedar menemukan kutipan ayat dalam Alkitab, tetapi juga karena baru saja saya
mendengarkan kesaksian seorang Hamba Tuhan yang sudah senior, bagaimana dia
baru mengatakan iya kepada Tuhan setelah dia kehilangan jari kelingkingnya.
Apakah kita harus mengalami hal
yang sedemikian ini, baru kita mau mengatakan iya kepada Tuhan. Pasti jawabnya tidak. Kita tahu bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih,
yang tidak akan mendatangkan celaka pada umatNya yang percaya. Maka Tuhan setiap memanggil kita dengan penuh
kasih maka kitapun harus menjawab dengan kasih untuk selalu siap untuk
menyongsong panggilan itu, karena Dia pasti sudah mempersiapkan segala
sesuatunya, tanpa kita perlu mengkhawatirkannya, apakah kita akan mampu atau tidak.
Selamat Melayani. Salam Sukacita. (H2)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar