Laman

Jayapura, Paradise Tersembunyi di Ujung Indonesia



Welcome to Paradise! Bersyukur kita tinggal di Indonesia, Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau yang mungkin seumur hidup kita belum tentu kita bisa menikmati semuanya. Dari Sabang sampai Merauke, tidak pernah satu pun yang luput dari pemeliharaan Tuhan, dari kedalaman laut, tingginya gunung, karpet hijau membentang, keramahan penduduk (setidaknya ini yang selalu disanjung oleh bule-bule yang berkunjung di negeri kita ini). Salah satunya adalah Pulau Cendrawasih, Pulau paling ujung timur Indonesia yang dulu dikenal dengan nama Irian Barat.
Irian Barat menjadi Provinsi ke-17 di Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1969. Irian sendiri berasal dari bahasa Biak, salah satu suku di Irian yang artinya “daerah iklim panas”. Dan pada tahun 1973 Irian Barat menjadi Irian Jaya. Dan pada tahun 2002, nama Irian Jaya berubah menjadi Papua. Tahun 2003 semenjak adanya Otonom Daerah, Papua dibagi menjadi 2 wilayah Papua Barat dengan Ibukota Manokwari dan Papua dengan Ibukota Jayapura. Dan 2 wilayah ini memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Salahsatunya adalah Jayapura, sebagai pusat pemerintahan Papua, Jayapura memiliki beberapa tempat yang tidak boleh dilewatkan jika kalian sudah menginjak tempat ini , antara lain :
1. Danau Sentani

Danau Sentani

Iman Adalah Dasar dari Segala Sesuatu

Ibrani 1 : 11
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”


Suatu saat kita berada pada suatu kondisi yang menyenangkan dan membahagiakan, seyogyanya kita akan memiliki pengharapan yang besar dan baik akan masa depan kita.  Tetapi sebaliknya, jika kita mengalami situasi yang sulit, maka pada saat itu juga pengharapan kita semakin kabur, semakin tidak jelas.  Dan walaupun saat seperti itu kita masih memiliki iman kepada Tuhan untuk melepaskan diri kita dari situasi tersebut, namun saat kondisi tidak segera membaik, maka iman kita pun kian luntur.  Dengan demikian kita akan semakin kehilangan dasar hidup kita.

Mendukung Negara Untuk Maju

(Roma 13:1-7)

Pada saat-saat ini kita bisa merasakan banyak perubahan yang lebih baik berkaitan dengan pelayanan yang di berikan pemerintah kepada warga negaranya.    


Di bidang administrasi kependudukan seperti pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), Akta Kelahiran dll dapat di kerjakan dalam waktu yang lebih singkat, murah bahkan gratis.  Di bidang kesehatan ada asuransi kesehatan untuk masyarakat.  Di bidang hukum mulai dapat di rasakan kepastian hukumnya. Meskipun dalam banyak bidang tersebut masih belum dapat dirasakan maksimal.

Renungan saat di Korea Selatan 6



Mengabarkan Iman dan Pengharapan
Iman dan pengharapan kepada Tuhan Yesus tidak boleh hanya menjadi berkat bagi kita saja namun harus juga diwartakan kepada sesama kita.  46,5 % lebih penduduk negeri ini dapat diumpamakan “seperti semak bulus di padang belantara,... yang tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk”.  

Mereka rentan terhadap keputusasaan dan tidak punya arah hidup rohani yang jelas.  Meski secara jasmani perkembangan ekonomi sedemikian pesatnya.  Mereka membutuhkan kasih kita hingga mereka mengenal iman dan pengharapan di dalam Tuhan Yesus.  Dan mengalami kepuasan hidup yang penuh secara jasmani dan Rohani.  Gereja perlu bertindak dengan kreatif dan tepat sasaran.  Untuk menjangkau mereka yang rentan terhadap masalah keputusasaan oleh karena tekanan kehidupan yang keras. Saya dan saudara mempunyai tugas yang sama dalam hal ini, yaitu mengabarkan Iman dan pengharapan didalam Kristus.  Mari kita saling mendoakan dan saling mendukung hingga kerajaan Allah dapat dinyatakan di bumi ini. Amen.  (Pdm. Iwan Firman Widiyanto, M.Th)

Renungan saat di Korea Selatan 5

Mengandalkan Tuhan
Problem utama orang menjadi putus asa adalah karena mereka biasanya cenderung mengandalkan kekuatannya sendiri.  Padahal kita menyadari bahwa kekuatan manusia dengan segala akal budinya sangat terbatas. Sehingga orang menjadi sangat tertekan ketika pikiran dan kekuatannya itu gagal dalam menyelesaikan segala permasalahan dengan berbagai tekanannya yang berat.


Firman Tuhan melalui Yeremia berbicara sangat tegas mengenai orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri; “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan ! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, Ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; Ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk (Yeremia 17:5-6).  

Renungan saat di Korea Selatan 4

Abraham Penuh Dengan Keyakinan iman
Kunci sukses Abraham dapat menang mengatasi kelemahan, keterbatasan dan tekanan hidupnya adalah karena Abraham itu taat mendengar sabda Tuhan dan mengimani dengan setia perwujudan janji Tuhan tersebut.  


Tuhan berfirman kepada Abraham, “Orang ini (Eliezer) tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu”. Lalu Tuhan membawa Abram keluar serta berfirman, “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika Engkau dapat menghitungnya”.  Maka FirmanNya kepadanya; “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” (Kejadian 15:4-5).  Dan Alkitab mencatat dengan jelas respon Abraham, “Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran (Kejadian 15:6).

Renungan saat di Korea Selatan 3

Abraham Menerima Keadaan yang terbatas
Abraham sebenarnya sudah sangat siap menerima keadaannya yang terbatas  itu. Ia tidak mengeluh dan berputus asa.  Bahkan Ia tetap berharap pada rencana Tuhan yang lain dalam hidupnya.  Mungkin dia berpikir meski Tuhan tidak memberi keturunan, namun Tuhan pasti mempunyai rencana lain yang lebih indah bagiku. Hal Ini ditunjukan dengan perkataannya kepada Tuhan, “...Apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi  rumahku ialah Eliezer,  Orang Damsyik itu” (Kej.15:2). 


Disinilah letak sikap menerima Abraham terhadap keadaannya.  Ia menyadari kemungkinan hidupnya akan meninggal tanpa mempunyai keturunan. Dengan demikian Ia tidak menunjukkan keputusasaannya.  Bahkan siap membuat perencanaan yang lain.  Ia berencana untuk mewariskan hartanya nanti pada pembantunya ,yaitu Eliezer.

Renungan saat di Korea Selatan 2

Belajar dari  Abraham
Situasi demikian mendorong kita belajar dari Iman dan pengharapannya Abraham. Ia merupakan teladan Iman dan Pengharapan yang luarbiasa.  Makanya Ia disebut sebagai Pahlawan Iman atau Bapa orang beriman. 


Paulus mencatat demikian, “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap jugadan percaya, bahwa ia akan menjadi Bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah nanti banyaknya keturunanmu” (Roma 4:18).  Dalam hal ini Abraham mampu melihat dengan mata iman.  Ia tidak menjadi mudah putus asa ketika melihat keadaan dirinya yang dapat dipastikan secara logika sudah tidak mungkin lagi mempunyai keturunan. Hal ini dinyatakan dengan jelas oleh Paulus, “Imannya tidak menjadi lemah, walaupun Ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya kira-kira sudah seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup (Roma 4:19).

Renungan saat di Korea Selatan 1


MEWARISI IMAN DAN PENGHARAPAN ABRAHAM
Saya bergumul dengan Tuhan ketika hendak merancang kotbah ini.  Saya bertanya dalam doa, “Tuhan saya harus berkotbah mengenai apa?”.  Lalu Saya mulai belajar dan mencari banyak informasi mengenai Korea Selatan.  Dari pembelajaran tersebut saya menjadi terkagum-kagum terhadap negara ini. Terhadap perkembangan ekonominya yang mengalami kemajuan yang sangat pesat.  
Para ahli memprediksi bahwa Korea Selatan akan menjadi negara terkaya nomer 2

Apa yang Ditakutkan Bisa Menjadi Kenyataan

Ayub 3 : 25

“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku”
“yachhh, inilah hidup.”    
Demikian guman seorang teman yang sangat kecewa ketika mendapati apa yang ia takutkan terjadi.  Karena usianya yang beberapa tahun lagi kepala empat dan ternyata ia belum mendapatkan pendamping hidup, beberapa teman yang lain sering meledek dia, atau sekedar bertanya, “Kapan kawinnya?”  Kapan Undangannya?”  “Kapan bawa gandengan ?” (Kayag truk aja Guyss).  Maka hal yang demikian itu justru membuat dia semakin larut dalam suasana takut untuk mencari pasangan hidup.  Dan yang terakhir terjadi dia justru tidak jadi menikah, padahal semua persiapan sudah dilakukan.  

Kebenaran : Otokritik atas kehidupan Bergereja



(Gal.4:12-20)
         Pada tanggal 31 Oktober 1517 Martin Luther mempublikasikan 95 dalil yang berisi mengenai protes ataupun kritiknya terhadap pengajaran dan praktek keagamaan gereja Katolik yang dirasakan telah menyimpang dari kebenaran.  Terutama kritik terhadap ajaran Indulgensi yang menyatakan bahwa gereja di beri wewenang oleh Tuhan untuk mengurangi hukuman di dalam api penyucian.  Di tambah lagi pada masa Paus Leo X menjual surat Indulgensi untuk menopang pembangunan Basilika Santo Petrus.  Kritik juga ditujukan kepada gereja Katolik yang melakukan praktek jual beli jabatan rohaniwan.  


Dalam proses reformasi tersebut beberapa reformator seperti Jan Hus di hukum mati dan John Wyclif di bakar.  Dari proses reformasi itulah selanjutnya  gereja Katolik terpecah, sebagian mengikuti para reformor dan menjadi gereja-gereja Protestan.  Maka 31 Oktober diperingati sebagai hari Reformasi.

Tambahkanlah Cinta Setiap Hari



(Efesus 4:31-32)

Judul di atas perlu menjadi doa yang senantiasa dipanjatkan oleh setiap keluarga.  Memohon supaya Tuhan menganugrahkan cinta kasih yang semakin erat dalam kehidupan berkeluarga.   

Karena cinta kasih dalam keluarga apabila tidak dirawat dengan baik maka akan terasa hambar, kering dan akhirnya lenyap.   Hal demikian bisa terjadi karena  ada persoalan-persoalan yang tidak terselesaikan.  Ada kepahitan, kegeraman, kemarahan, perikaian dan bahkan fitnah

CARILAH DAHULU KERAJAAN ALLAH

Matius 6 : 33
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan Kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”
Seringkali ayat ini digunakan dalam khotbah – khotbah yang kita dengar. 

Rasa Cinta Merigankan Beban Pekerjaan

Kejadian 29 : 1 – 30

Kutipan ayat – ayat Alkitab ini menggambarkan sebagian kejadian dalam kehidupan Yakub, Yakni kehidupan saat mudanya.   Ada satu ayat yang cukup menarik bagi saya, yaitu pada ayat yang keduapuluh.

“Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel”
Bekerja menggembalakan ternak bukanlah pekerjaan yang ringan. 

Ketika Di Persimpangan



Keluaran 1:8-2:10
Di dalam dunia ada dua jalan
Lebar dan sempit, mana kau pilih
Yang lebar api, jiwamu mati
Tapi yang sempit, hidup berglori
            Pujian lama tersebut menggambarkan jalan hidup manusia

Parkit yang Terlepas



Suatu ketika seekor burung Parkit peliharaan terlepas dari sangkarnya.  Dengan susah payah si burung berusaha terbang dengan cepat dan tinggi.  Namun apa daya, sejak lahir dia hanya terbang sebatas sangkar cantik yang mengurungnya.  Sehingga otot-otot sayapnya tidak begitu kuat untuk terbang cepat nan tinggi. Si burung parkit mau tidak mau harus puas dengan kemampuan terbang rendah dan dalam jarak yang pendek-pendek saja.

Akhirnya beberapa orang

Keluarga Yang Melayani Tuhan



Matius 6: 10, Ulangan 5: 16, Markus 7: 10, Efesus 6: 4
Berangkat dari definisi keluarga. Menurut KBBI ada setidaknya dua definisi tentang Keluarga:
  •  Ibu Bapak dengan anak-anaknya; seisi rumah; anak bini;
  • (kaum--) sanak saudara; kaum kerabat
Tujuan dari keluarga menghadirkan Kerajaan Sorga (Matius 6:10, “datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga”).

 
1.                  Anak-anak harus

MERETAS BATAS-BATAS PELAYANAN

(Lukas 19:1-10)
Pada saat ini santer pemberitaan mengenai para menteri kabinet kerja yang blusukan secara total.  Mereka semua nampaknya mengikuti gaya presiden Jokowi yang mengedepankan strategi blusukan untuk mengetahui kondisi real masyarakat. Ada menteri yang bahkan naek pagar karena tidak dibukakan pintu waktu melakukan sidak di sebuah agen penampungan tenaga kerja.  Aksi mereka ini bisa di bilang meretas batas-batas pelayanan.    Sudah tidak ada lagi perasaan-perasaan gengsi, enggan, sungkan yang dapat membatasi pelayanan kepada sesama.


Tuhan Yesus sudah

Membuka Pintu Berkat Dengan Memberi



 (2 Raja-Raja 4:8-37)
Ada seorang perempuan Sunem yang kaya raya namun tidak mempunyai anak.  Suaminya sudah lanjut usia.  Namun perempuan dan suaminya ini setia kepada Tuhan.  Mereka melayani Elisa, Sang hamba Tuhan, yang seringkali datang ke kota Sunem. Kedua suami istri ini dengan ramah menerima Elisa kedalam rumahnya dan mengajaknya makan (ay.8).  Mereka membuatkan kamar lengkap dengan segala keperluannya (ay.10).  
Mendapatkan pelayanan yang sedemikian itu maka Elisa

Kasih dan Kebenaran: Setali Tiga Uang



Kisah Para Rasul 4: 32 – 5: 11
Dalam kisah firman Tuhan hari ini ada dua kisah yang berlawanan. Yusuf yang disebut Barnabas menyerahkan semua hasil penjual tanahnya kepada para rasul supaya semua itu diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Dia memberikan dengan tulus dan tidak ada maksud apapun dibalik pemberian itu. Kisah berikutnya yaitu dari Ananias-Safira. Mereka adalah suami istri yang telah bersepakat berbohong. Mereka menjual tanah milik dan memberikan kepada para rasul sebagian uang hasil penjualan. Yang salah disini adalah bukan memberi, tetapi kebohongan yang dibuat oleh Ananias-Safira. Mereka mengaku memberikan semua uangnya ternyata sebenarnya hanya memberikan sebagian saja.
Lalu apa hubungannya dengan peribahasa “Setali tiga uang”?

PENDIDIKAN MEMUTUS RANTAI KEMISKINAN


 (Amsal 13:18)
Judul sebuah berita onIine sangat menarik, “Iwan Setyawan Anak Sopir Angkot Penakluk New York”.  Menceritakan seorang yang bernama Iwan Setyawan yang berasal dari keluarga miskin.  Ayahnya bekerja sebagai sopir angkot dan ibunya sebagai ibu rumah tangga.   Meskipun dari keluarga miskin namun orangtua Iwan termasuk orangtua yang maju dalam pemikiran.  Mereka mengutamakan pendidikan untuk anak-anaknya.  Orang tuanya mendukung pendidikan Iwan hingga perguruan tinggi.  Meski perjalanan untuk menyelesaikan pendidikan tinggi tersebut penuh dengan pengorbanan.  Ibunya sering menggadaikan barang-barangnya agar Iwan bisa tetap sekolah.  Bahkan ayahnya menjual angkot satu-satunya mesin penghasil uang untuk keluarga demi mendukung pendidikan tinggi anaknya itu.  Akhirnya pengorbanan kedua orangtuanya tidak sia-sia.  Setelah lulus dari IPB Iwan setiawan di terima di Nielsen Research Company.  Selanjutnya karena ketekunannya Ia di pindah di New York, Amerika.  Disana Iwan bekerja lebih keras dari yang lainnya.  Akhirnya Ia mendapat posisi yang cukup tinggi di Nielsen Research Amerika.  Dari Amerika Ia mendukung keuangan keluarganya di Indonesia.
Kisah tersebut memperlihatkan

Pagi yang Cerah

Pagi yang cerah, udara segar terima kasih, di tepi pantai, ombak berderai terima kasih.  Itu adalah sebuah kutipan dari sebuah lagu ceria, yang selalu mengingatkan saya untuk selalu bersyukur.  Walaupun setiap saat tidaklah selalu cerah, dan terkadang juga jauh dari suasana segar, namun hati yang bersyukur akan selalu membantu kita menuju suasana yang cerah dan segar.  Demikian pula sebaliknya jika hari - hari kita penuhi dengan mengeluh, maka suasana yang terjadi adalah juga akan menjadi tidak segar dan justru kita akan larut dalam sebuah kondisi yang bisa membawa kita pada kondisi yang tidak baik.
Pada awal blog saya ini, besar harapan saya supaya kedepannya, apa yang terdapat dalam blog ini bisa menjadi berkat bagi setiap orang yang membacanya atau sekedar berkunjung saja.  Dan pada awalnya pula, blog ini akan akan berisi renungan - renungan berasal dari berbagai sumber, sampai dengan saatnya nanti, saya bisa mengumpulkan teman - teman penulis yang lain untuk bisa menjadi kontributor aktif, dengan banyak mengirinkan tulisan - tulisan yang bermutu dan bermakna bagi kita semua.  Kiranya ada campur tangan Tuhan, baik dalam penyajian maupun dalam proses pembuatan artikel - artikelnya. Amin. (H2PC)