Laman

Renungan saat di Korea Selatan 3

Abraham Menerima Keadaan yang terbatas
Abraham sebenarnya sudah sangat siap menerima keadaannya yang terbatas  itu. Ia tidak mengeluh dan berputus asa.  Bahkan Ia tetap berharap pada rencana Tuhan yang lain dalam hidupnya.  Mungkin dia berpikir meski Tuhan tidak memberi keturunan, namun Tuhan pasti mempunyai rencana lain yang lebih indah bagiku. Hal Ini ditunjukan dengan perkataannya kepada Tuhan, “...Apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi  rumahku ialah Eliezer,  Orang Damsyik itu” (Kej.15:2). 


Disinilah letak sikap menerima Abraham terhadap keadaannya.  Ia menyadari kemungkinan hidupnya akan meninggal tanpa mempunyai keturunan. Dengan demikian Ia tidak menunjukkan keputusasaannya.  Bahkan siap membuat perencanaan yang lain.  Ia berencana untuk mewariskan hartanya nanti pada pembantunya ,yaitu Eliezer.

Padahal tidak mempunyai keturunan bukanlah masalah sepele dalam budaya orang Asia.  Baik dalam budaya Israel kuno maupun dalam budaya orang Asia yang lain , tidak terkecuali juga dengan budaya Korea Selatan saat ini.  Keturunan dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting.  Yaitu sebagai tanda berkat Tuhan dan yang akan menjaga dan meneruskan garis keturunannya agar tidak terputus.  Dengan demikian dapat melanjutkan  segala pencapaian hidupnya, yaitu dengan mewariskan harta bendanya atau usaha yang telah dirintis sejak lama kepada keturunannnya itu. Orang yang tidak mempunyai keturunan biasanya akan dianggap sebelah mata oleh komunitasnya.  Mungkin mereka akan kurang dihormati dan menjadi bahan olok-olokkan atau menjadi bahan pembicaraan negatif yang lain.  Dalam keadaan itu sebenarnya Abraham, sebagai manusia biasa dapat saja memberontak pada Tuhan, menjadi lemah dan putus asa.  Namun semuanya itu tidak dilakukannya.  Ia tetap berharap dan bergantung pada perencanaan Tuhan atas hidupnya.  Dia menerima apa yang menjadi perencanaan Tuhan dalam hidupnya.  Meskipun itu mungkin tidak sesuai dengan harapannya.

Sikap menerima keadaan dan tetap berharap atau bergantung pada Tuhan adalah sikap yang penting untuk kita teladani dan hayati dalam kehidupan kita. Bahkan dalam keadaan yang terburuk sekalipun yang diijinkan Tuhan terjadi dalam hidup, kita harus tetap menerimanya dengan ucapan syukur. Selain Abraham tokoh Ayub juga merupakan orang beriman yang telah memberikan teladan hidup semacam itu.  Meskipun pencobaan datang dalam hidupnya secara bertubi-tubi, anaknya mati semua, harta bendanya habis namun Ayub tidak memberontak atau menjauh dari Tuhan.  Ia menerima perencanaan Tuhan dalam hidupnya. Dalam kondisi yang penuh dengan tekanan batin yang menyakitkan itu ia berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali kedalamnya.  Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan !”(Ayub 1:21).  Dan selanjutnya Alkitab mencatat, “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut (Ayub 1:22).  Dengan bersikap semacam itu, Ayub tetap tegar, ia tetap bisa memuji Tuhan dan menyatakan ucapan syukurnya.  

Dalam hal ini, memuji Tuhan dan tetap mengucap syukur kepada Tuhan, meski tekanan hidup melanda merupakan sebuah upaya untuk menerima keadaan terburuk yang diijinkan Tuhan terjadi pada kita.  Maka patut juga kita mendengarkan seruan Paulus, “Bersukacitalah senantiasa didalam Tuhan! sekali lagi kukatakan bersukacitalah !”(Filipi:4:4).  Kemudian dilanjutkan, “Janganlah hendaknya kamu kuatir akan apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu pada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4:6).  Dan apabila kita bisa melakukan yang demikian itu maka, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:7).(Pdm. Iwan Firman Widiyanto, M.Th)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar