Abraham
Menerima Keadaan yang terbatas
Abraham sebenarnya
sudah sangat siap menerima keadaannya yang terbatas itu. Ia tidak
mengeluh dan berputus asa. Bahkan Ia tetap berharap pada rencana Tuhan
yang lain dalam hidupnya. Mungkin dia berpikir meski Tuhan tidak memberi
keturunan, namun Tuhan pasti mempunyai rencana lain yang lebih indah bagiku.
Hal Ini ditunjukan dengan perkataannya kepada Tuhan, “...Apakah yang akan
Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak,
dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, Orang Damsyik itu”
(Kej.15:2).
Disinilah letak sikap menerima Abraham terhadap keadaannya.
Ia menyadari kemungkinan hidupnya akan meninggal tanpa mempunyai keturunan.
Dengan demikian Ia tidak menunjukkan keputusasaannya. Bahkan siap membuat
perencanaan yang lain. Ia berencana untuk mewariskan hartanya nanti pada
pembantunya ,yaitu Eliezer.
Sikap menerima
keadaan dan tetap berharap atau bergantung pada Tuhan adalah sikap yang penting
untuk kita teladani dan hayati dalam kehidupan kita. Bahkan dalam keadaan yang
terburuk sekalipun yang diijinkan Tuhan terjadi dalam hidup, kita harus tetap
menerimanya dengan ucapan syukur. Selain Abraham tokoh Ayub juga merupakan
orang beriman yang telah memberikan teladan hidup semacam itu. Meskipun
pencobaan datang dalam hidupnya secara bertubi-tubi, anaknya mati semua, harta
bendanya habis namun Ayub tidak memberontak atau menjauh dari Tuhan. Ia
menerima perencanaan Tuhan dalam hidupnya. Dalam kondisi yang penuh dengan
tekanan batin yang menyakitkan itu ia berkata, “Dengan telanjang aku keluar
dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali kedalamnya.
Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan !”(Ayub
1:21). Dan selanjutnya Alkitab mencatat, “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak
berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut (Ayub 1:22).
Dengan bersikap semacam itu, Ayub tetap tegar, ia tetap bisa memuji Tuhan dan
menyatakan ucapan syukurnya.
Dalam hal ini,
memuji Tuhan dan tetap mengucap syukur kepada Tuhan, meski tekanan hidup
melanda merupakan sebuah upaya untuk menerima keadaan terburuk yang diijinkan
Tuhan terjadi pada kita. Maka patut juga kita mendengarkan seruan Paulus,
“Bersukacitalah senantiasa didalam Tuhan! sekali lagi kukatakan bersukacitalah
!”(Filipi:4:4). Kemudian dilanjutkan, “Janganlah hendaknya kamu kuatir
akan apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu pada Allah
dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4:6). Dan apabila
kita bisa melakukan yang demikian itu maka, “Damai sejahtera Allah, yang
melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus”
(Filipi 4:7).(Pdm. Iwan Firman Widiyanto, M.Th)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar