Mengandalkan
Tuhan
Problem utama
orang menjadi putus asa adalah karena mereka biasanya cenderung mengandalkan
kekuatannya sendiri. Padahal kita menyadari bahwa kekuatan manusia dengan
segala akal budinya sangat terbatas. Sehingga orang menjadi sangat tertekan
ketika pikiran dan kekuatannya itu gagal dalam menyelesaikan segala
permasalahan dengan berbagai tekanannya yang berat.
Firman Tuhan
melalui Yeremia berbicara sangat tegas mengenai orang yang mengandalkan
kekuatannya sendiri; “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang
mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan ! Ia
akan seperti semak bulus di padang belantara, Ia tidak akan mengalami datangnya
keadaan baik; Ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang
asin yang tidak berpenduduk (Yeremia 17:5-6).
Jadi orang yang jauh dari
Tuhan dan hidup dengan mengandalkan dirinya sendiri akan mengalami kesepian
batin yang mendalam, digambarkan seperti tinggal di padang gurun yang tidak
berpenduduk. Ia akan mengalami kegersangan hidup, tidak ada damai
sejahtera. Dalam hatinya hanya ada amarah, kekecewaan, kepahitan dan
ketidakpuasan hidup. Rohaninya kering dan hampa, seperti kehilangan
tujuan, tidak tahu arah yang jelas. Orang yang semacam itu tentu sudah
masuk kedalam penderitaan dunia yang hebat. Keadaan semacam tidak
memandang status sosial kaya miskin. Meskipun kaya tapi tidak
mengandalkan Tuhan akan mengalami situasi semacam ini. Maka tidak
mengherankan apabila pelaku bunuh diri juga dilakukan oleh orang-orang yang
terkenal dan kaya.
Sebaliknya ada
berkat yang penuh bagi mereka yang mengandalkan Tuhan. “Diberkatilah orang yang
mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya kepada Tuhan ! Ia akan
seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke
tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya
tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti
menghasilkan buah (Yeremia 17:7-8). Orang yang mengandalkan Tuhan akan
mendapatkan kesegaran dan kesejukan dalam hidupnya. Digambarkan seperti
pohon yang ditanam didekat air. Itu berarti damai sejahtera melingkupinya
secara penuh. Ada kepuasan hidup dan apa yang dibutuhkan dicukupkan oleh
Tuhan. Dan berkat yang diterima itu tidak hanya berguna bagi dirinya sendiri
namun juga akan dapat dirasakan oleh orang disekitarnya.(Pdm. Iwan Firman
Widiyanto, M.Th)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar