Laman

Renungan saat di Korea Selatan 4

Abraham Penuh Dengan Keyakinan iman
Kunci sukses Abraham dapat menang mengatasi kelemahan, keterbatasan dan tekanan hidupnya adalah karena Abraham itu taat mendengar sabda Tuhan dan mengimani dengan setia perwujudan janji Tuhan tersebut.  


Tuhan berfirman kepada Abraham, “Orang ini (Eliezer) tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu”. Lalu Tuhan membawa Abram keluar serta berfirman, “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika Engkau dapat menghitungnya”.  Maka FirmanNya kepadanya; “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” (Kejadian 15:4-5).  Dan Alkitab mencatat dengan jelas respon Abraham, “Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran (Kejadian 15:6).


Padahal pada waktu itu Abraham belum mempunyai anak dan Ia sudah sangat tua dan kandungan Istrinya sudah tertutup.  Tapi Abraham sangat yakin dengan janji Tuhan itu.  Selanjutnya keyakinannya itu mampu mengatasi situasi yang sebenarnya.  Sebuah situasi ketidakmungkinan mempunyai keturunan di saat usianya sudah sangat tua dan kandungan Sara Istrinya sudah tertutup.  Alkitab mencatat, “Tetapi terhadap janji Allah ia tiak bimbang karena ketidakpercayaan, malah Ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah. Dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.  Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran”(Roma 4:20-22). 

Lalu bagaimana caranya agar keyakinan iman kita kepada Tuhan bisa kuat seperti keyakinan imannya Abraham?  Paulus menyatakan bahwa “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus”(Roma 10:17). Itu berarti keyakinan iman kita akan dapat kuat apabila kita setia mendengar dan memahami Firman Tuhan.  Kita perlu belajar dengan rajin dan penuh disiplin akan firman itu, Menghayati dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.  Entah itu dalam saat teduh pribadi maupun melalui mesbah keluarga.  Juga melalui ibadah bersama dengan jemaat yang lain.  Keyakinan Iman Abraham demikian kuat karena Ia juga setia mendengar sabda Tuhan.  Abraham peka terhadap suara dan kehendak Tuhan.

Orang menjadi putus asa karena Ia tidak mempunyai keyakinan iman yang kuat.  Kasus seperti ini tidak saja terjadi pada orang yang tidak percaya kepada Tuhan, namun juga dapat dialami oleh orang Kristen yang fokus perhatiannya hanya pada permasalahan hidup,   sehingga Ia lupa berfokus pada Tuhan yang Maha Kuasa.  Orang tidak berfokus pada Tuhan karena Ia tidak bisa merasakan Tuhan yang hidup didalam kehidupannya. Masalah tersebut dapat terjadi karena Ia hanya menempatkan Tuhan sebagai pengetahuan akal budi.  Tuhan hanya menjadi sebuah konsep yang memuaskan akal saja.  Sehingga ia tidak dapat merasakan sendiri pengalaman rohani Tuhan yang hidup.

Kita harus mempunyai pengalaman iman secara pribadi, pengalaman yang mampu merasakan Tuhan yang benar-benar hidup.  Kita harus mempunyai iman yang kuat.   Iman sendiri dapat dipahami sebagai kemampuan melihat tangan Allah yang telah berkarya menolong dalam menyelesaikan segala permasalahan kita, meskipun pada kenyataannya masalah kita saat ini belum selesai.  Sama seperti yang diajarkan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Ibrani yang  mengatakan, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1). Itu berarti penglihatan rohani kita perlu dipertajam.  Harus mampu melihat penyelesaian telah terjadi oleh Tuhan, meski pada kenyataannya masalah masih terjadi.  Iman inilah yang akan memberi kita kekuatan baru untuk menghadapi segala situasi yang berat dan tidak menguntungkan.  Iman inilah yang akan mengubah sesuatu yang mustahil  menjadi sesuatu yang dapat menjadi kenyataan.(Pdm. Iwan Firman Widiyanto, M.Th)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar