Laman

Renungan saat di Korea Selatan 1


MEWARISI IMAN DAN PENGHARAPAN ABRAHAM
Saya bergumul dengan Tuhan ketika hendak merancang kotbah ini.  Saya bertanya dalam doa, “Tuhan saya harus berkotbah mengenai apa?”.  Lalu Saya mulai belajar dan mencari banyak informasi mengenai Korea Selatan.  Dari pembelajaran tersebut saya menjadi terkagum-kagum terhadap negara ini. Terhadap perkembangan ekonominya yang mengalami kemajuan yang sangat pesat.  
Para ahli memprediksi bahwa Korea Selatan akan menjadi negara terkaya nomer 2
di dunia dan akan tercatat sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. Prediksi para ahli ini mungkin akan menjadi kenyataan. Saya akan memberikan contoh yang  sederhana yang membuktikan hal tersebut.  Di desa kami saja, yang agak jauh dari kota, di lereng gunung Ungaran di Provinsi Jawa Tengah, anda bisa menemukan dengan sangat mudah barang-barang produksi dari Korea Selatan.  Handphone merk samsung dengan layar sentuh dan tekhnologi android sudah menjadi pemandangan sehari-hari di tempat kami. Bahkan istri,adik dan beberapa jemaat juga memakai Handphone dengan merk tersebut. Monitor LCD ukuran 50 inchi milik gereja kami bermerk LG, Laptop gereja dan  monitor PC kami merk Samsung, lemari es kami merk LG dan sebagainya.  Belum di tempat-tempata lain di Indonesia bahkan di negara-negara lain di dunia.  Nampaknya pemandangan itu membenarkan  data  bahwa Korea Selatan, sebagai negara dengan Expor terbesar kedelapan didunia sekaligus negara dengan impor terbesar didunia ini, telah mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Melihat perkembangan tersebut sebenarnya saya sempat bergumul lebih mendalam lagi dengan Tuhan mengenai pokok Firman Tuhan  apa yang kiranya cocok hendak disampaikan kepada jemaat di Korea.  Karena nampaknya kehidupan di negara ini demikian sempurna. Namun benar apa kata pepatah dari negara saya, “Tidak Ada Gading Yang Tidak Retak”, yang berarti tidak ada segala sesuatu yang sempurna di dunia ini tanpa cacat sedikitpun.  Segala sesuatu di dunia ini pasti mempunyai kelemahan.  Saya mendapatkan data yang sungguh mencengangkan berkaitan dengan permasalahan di Korea Selatan.  Ternyata negara ini dinyatakan juga sebagai negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia. Park dan Lester, peneliti sosial, menyatakan bahwa pada tahun 2011 sebanyak  28,4 orang dari setiap 100.000 orang di Korea Selatan melakukan bunuh diri.  Saya tidak tahu dengan data pada tahun ini apakah mengalami penurunan atau peningkatan. Namun persoalan ini nampaknya masih menjadi persoalan yang cukup pelik bagi pemerintahan Korea Selatan.  Masalahnya kasus bunuh diri ini telah menimpa berbagai kalangan.  Baik kalangan usia sekolah maupun kalangan tua dengan usia 60-74 tahun.  Bahkan kasus bunuh diri ini menimpa juga kalangan elit seperti tokoh politik nasional, pengusaha, olahragawan, artis, model dan lain sebagainya.

Mengapa hal ini bisa terjadi ? Data tahun 2010 menyatakan bahwa bunuh diri di korea Selatan 28,8 % disebabkan oleh karena putus asa secara psikologis, 22,6 % karena penderitaan fisik, 15,9% karena kesulitan ekonomi dan 11,4 % karena masalah keluarga.  Beberapa peneliti menerangkan bahwa permasalahan bunuh diri pada usia sekolah terjadi karena tekanan yang berkaitan dengan kemampuan akademik di sekolah.  Sedangkan bunuh diri pada orang tua karena mereka tidak mau menjadi beban ekonomi bagi anaknya.  

Saya bergumul lagi, bagaimana hal ini bisa terjadi ? Padahal sekarang ini sedang terjadi kegerakan rohani yang pesat dari gereja-gereja Korea Selatan.  Bahkan gereja dengan jemaat terbesar di dunia dapat di temukan di negeri ini.  Selanjutnya permasalahan ini menjadi lebih jelas manakala saya dikejutkan oleh data yang dilansir Pew Research yang memperlihatkan bahwa ternyata kekristenan di Korea Selatan baru mencapai 18,3 % dari populasi yang ada di Korea.  Katolik 10, 9 % dan Budha sebagai agama terbesar kedua sebanyak 22,8 %.  Dan yang paling mengejutkan saya adalah bahwa ternyata mayoritas populasi Korea Selatan sebanyak 46,5 % menganut paham Atheisme.  Kemudian sisa sekitar 1,7 % merupakan penganut agama dan kepercayaan yang lain. 

Jelas dari data-data itu memperlihatkan bahwa sebagian besar masyarakat Korea Selatan dalam ancaman keputusasaan dan tekanan psikologis yang dahsyat.  Dan kalangan mayoritas masyarakat Atheis yang tidak percaya pada Tuhan menjadi kalangan yang paling rentan dengan tekanan psikologis dan keputusasaan.  Kalangan ini sungguh-sungguh membutuhkan Iman dan Pengharapan akan Tuhan secara khusus kepada Tuhan Yesus Kristus.   Dengan demikian akan mampu mengatasi tekanan batin dan selanjutnya mampu meminimalkan upaya untuk bunuh diri. (Pdm. Iwan Firman Widiyanto, M.Th)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar