Suatu hari
saya berlibur ke sebuah pantai yang terkenal dengan pasir berwarna pink dan
pulau-pulau kecil yang mengelilingi pantai tersebut. Untuk mencapai ke
pulau-pulau kecil nan indah tersebut saya harus naik kapal nelayan berkapitas 6
orang.
Tak sabar ingin segera melihat keindahan alam di depan sana saya
langsung menaiki perahu yang sedari tadi berdiam di tepi pantai. Perlahan,
perahu nelayan meninggalkan tepi pantai. Kira-kira 200 meter dari tepi pantai
jantung saya berdetak sangat kencang. Rasa penasaran saya berubah menjadi
ketakutan yang luar biasa. Saat itu angin bertiup cukup kencang serta gulungan
ombak yang deras. Yang saya pikirkan adalah, “Bagaimana jika perahu ini
terbalik ? Saya bisa tenggelam bukan?” Perahu tersebut hanyalah perahu kecil
yang diberi satu penyangga sebagai penyeimbang badan perahu dan satu speedboat
sebagai alat mengemudi perahu. Tentu, dari segi keamanan kurang memandai
dengan perahu atau kapal-kapal cangih lainnya.
Sepanjang
perjalanan, saya tak henti-henti berseru dengan Pak Nelayan yang membawa
perahu. Saya berkata : “Haduh Pak ombaknya besar, kalau jatuh bagaimana? Saya
takut Pak”. Beliau menjawab: ”Tenang, ikuti saja alur ombaknya. Jangan ditahan.
Justru akan membuat Anda semakin takut”. Ingin rasanya saya kembali ke tepi
pantai namun teringat anugerah Sang Ilahi di depan sana yang menunggu saya.
Lantas saya berpikir : “Apakah Bapak ini tidak takut dengan ombak sebesar ini?
Mengapa Ia tampak tenang?”. Akhirnya saya mencoba mengikuti saran Bapak
tersebut dan rasa takut saya menghilang.
Setiap
manusia pasti memiliki cita-cita, impian, dan harapan. Bahkan satu manusia
sanggup memiliki jutaan mimpi di benaknya. Senang bukan? Terlebih, jika kita
tahu mimpi tersebut bisa terwujud. Namun dalam perjalanan meraih harapan,
berapa sering kita jumpai hambatan, tantangan, atau rintangan? Berapa sering
kita mulai tersentuh batu kerikil yang berserakan di perjalanan kita? Berapa
banyak hal-hal yang mengecewakan hadir di hati kita? Apakah masih ada semangat
yang bertubi-tubi seperti di awal? Atau justru mulai lelah, putus asa, dan
rasanya ingin menyerah?
Semua mimpi
atau harapan kita ibarat kejadian di atas. Ketika pertama kali saya punya mimpi
bisa melihat keindahan lain dari alam ini melalui pantai. Bagaimana saya
gembira bahwa ada alat yaitu perahu yang bisa menghantarkan saya ke tempat yang
diidam-idamkan. Tapi sampai jarak 200 meter saya mulai mengalami hambatan,
tantangan berupa ombak demi ombak yang datang silih berganti mengoncangkan
perahu yang saya tumpangi. Saya mulai tidak fokus dengan tujuan awal saya. Saya
hanya memikirkan bagaimana dengan diri saya, perahu serta ombak tersebut.
Seringkali kita kehilangan fokus akibat problematika yang ada. Seruan saya kepada Pak Nelayan di atas, diibaratkan seringnya kita mengeluh waktu persoalan datang menyapa hidup kita. Kita mulai tidak terima kejadian-kejadian (yang menurut kita aneh), kuatir, merasa bahwa ini salah. Coba kita tengok Bapak yang mengemudi perahu tadi, beliau bilang apa: :”Tenang, ikuti saja alur ombaknya”. Bapak itu seperti Tuhan atau orang-orang di sekitar kita, Dia memberi wejangan, memberi kepastian bahwa semua akan baik-baik saja dan indah pada akhirnya. Sayang, hati dan pikiran kita tidak mudah menerima apa yang Tuhan atau orang-orang di sekitar kita katakan. Mengapa? Karena hati dan pikiran kita terisi penuh oleh kekuatiran dan hanya berpusat pada persoalan yang ada.
Peristiwa
ini memberikan pelajaran untuk saya, yaitu :
1 Nikmati
setiap irama ombak yang datang diatas ‘perahu’ kehidupan kita
2 Tetap
fokus pada harapan-harapan yang ingin kita capai
3 Mengucap
syukur
4 Selalu
meminta petujuk kepada Tuhan
5 Buka
hati dan pikiran kita untuk melihat pesan-pesan yang disampaikan oleh
orang-orang di sekitar kita. Bisa saja mereka malaikat yang dikirimkan Tuhan
agar impian kita terwujud
Tuhan sudah
mengerti lebih dulu ombak-ombak kehidupan yang kita hadapi. Dia juga tahu
seberapa kuat 'alat' yang kita gunakan untuk menghantarkan pada harapan kita.
Sama seperti Bapak pengemudi perahu tadi, beliau paham akan gulungan ombak yang
saya lihat dan rasakan. Mengetahui seberapa mampu perahunya membawa saya
menikmati keindahan pantai meskipun hanya dengan satu sisi penyangga dan satu
speetboard.
“Hidup itu
perjuangan kalau mau mengalami kemenangan demi kemenangan”
Sumber :
Jessica Natallia (jawaban.com)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar