Laman

Negosiasi Ala Donald Trump 2

Negosiasi Bukanlah Ilmu Pengetahuan : Peran Utama dari Kepuasan

Satu aspek yang benar – benar diinginkan semua orang dari suatu negosiasi adalah perasaan puas dengan hasil akhir yang memuaskan.  Agar dapat sukses dalam suatu negosiasi, kita harus membujuk dan menuntun pihak lawan agar dapat bersama-sama berbagi kepuasan, kita tidak dapat memaksakan perasaan tersebut kepada mereka.   


Namun demikian, kepuasan adalah murni kondisi emosi subjektif yang langsung terkait dengan kepribadian seseorang. Kita akan sangat jarang mencapai sesuatu di dalam negosiasi yang sepenuhnya nyata, atau dapat dibuktikan atau bahkan diukur secara efektif.  Ilmu pengetahuan, di lain pihak, bersifat pasti.  Kita tahu apa yang telah kita capai, dan pencapaian tersebut dapat memenuhi kriteria tersebut.  Jadi, jika seseorang bertanya kepada kita “Apakah anda menang atau kalah di dalam negosiasi tersebut?”  Kita akan kesulitan memberi jawaban yang pasti.


Kita mungkin memenangkan sejumlah poin dan juga kalah di poin-poin yang lain, namun konsep menang atau kalah bisa dikatakan terlalu pasti dan terbatas untuk dapat menjelaskan bagaimana hasil akhir dari negosiasi di dalam dunia nyata.   Tidak ada jawaban yang benar-benar tepat atau salah dalam suatu negosiasi.

Kadang-kadang satu fase negosiasi berakhir dengan hasil yang sama sekali berbeda dari apa yang kita harapkan atau inginkan.  Meskipun demikian, kita mendapati bahwa kepuasan dan ketentraman hati lebih penting ketimbang mendapatkan harga harga yang kita harapkan. Perasaan nyaman mungkin lebih berarti bagi kita ketimbang mendapatkan harga yang terbaik.  Kepuasan harus menjadi tujuan kita yang sesungguhnya, bukan mendapatkan harga yang terbaik atau mendapatkan semua yang kita minta.  Hal ini merupakan proses yang manusiawi dengan nuansa dan kompleksitas yang tak terbatas, dan tidak akan terpenuhi hanya dengan sekadar mencapai kesepakatan biaya dan performa.
From : “Trump Style Negotiation”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar