Negosiasi Bukanlah Ilmu Pengetahuan : Peran Utama dari
Kepuasan
Satu aspek yang benar – benar diinginkan semua orang dari
suatu negosiasi adalah perasaan puas dengan hasil akhir yang memuaskan. Agar dapat sukses dalam suatu negosiasi, kita
harus membujuk dan menuntun pihak lawan agar dapat bersama-sama berbagi
kepuasan, kita tidak dapat memaksakan perasaan tersebut kepada mereka.
Namun demikian, kepuasan adalah murni kondisi
emosi subjektif yang langsung terkait dengan kepribadian seseorang. Kita akan
sangat jarang mencapai sesuatu di dalam negosiasi yang sepenuhnya nyata, atau
dapat dibuktikan atau bahkan diukur secara efektif. Ilmu pengetahuan, di lain pihak, bersifat
pasti. Kita tahu apa yang telah kita
capai, dan pencapaian tersebut dapat memenuhi kriteria tersebut. Jadi, jika seseorang bertanya kepada kita
“Apakah anda menang atau kalah di dalam negosiasi tersebut?” Kita akan kesulitan memberi jawaban yang
pasti.
Kita mungkin memenangkan sejumlah poin dan juga kalah di
poin-poin yang lain, namun konsep menang atau kalah bisa dikatakan terlalu
pasti dan terbatas untuk dapat menjelaskan bagaimana hasil akhir dari negosiasi
di dalam dunia nyata. Tidak ada jawaban
yang benar-benar tepat atau salah dalam suatu negosiasi.
Kadang-kadang satu fase negosiasi berakhir dengan hasil yang
sama sekali berbeda dari apa yang kita harapkan atau inginkan. Meskipun demikian, kita mendapati bahwa
kepuasan dan ketentraman hati lebih penting ketimbang mendapatkan harga harga
yang kita harapkan. Perasaan nyaman mungkin lebih berarti bagi kita ketimbang
mendapatkan harga yang terbaik. Kepuasan
harus menjadi tujuan kita yang sesungguhnya, bukan mendapatkan harga yang
terbaik atau mendapatkan semua yang kita minta.
Hal ini merupakan proses yang manusiawi dengan nuansa dan kompleksitas
yang tak terbatas, dan tidak akan terpenuhi hanya dengan sekadar mencapai
kesepakatan biaya dan performa.
From :
“Trump Style Negotiation”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar